Der Spielmacher

Mengurus Tilang v2.0 (Form Biru)

Apr
30

Setelah kena tilang yang waktu itu, tanggal 21 April 2008 kemarin saya terkena tilang lagi, ya saya akui saya memang salah, soalnya memutar di putaran yang ada rambu dilarang memutar, putarannya terletak di jln. I Gusti Ngurah Rai daerah buaran jakarta timur, di depan kantor PPP, hehehehe berhubung putaran yang bener jauh banget di depan PMI Jakarta Timur sana, dan emang lagi buru-buru.

Akhirnya disuruh menepi oleh bapak polisi yang jarang-jarang ada di situ (putaran ini memang sering banget dilanggar), diminta memperlihatkan SIM dan STNK, kemudian pak polisi mengeluarkan surat tilang, awalnya mau dikasih yang form merah, tapi saya buru-buru meminta form yang biru, ya sekali-kali nyobain yang biru, yang merah kan udah, lagipula di pengadilannya juga ga ada argumentasinya, langsung divonis bersalah dan bayar denda, mending langsung bayar dendanya aja. Ya udah dikasih form biru, ini awalnya saya ragu akan diberikan form biru, karena banyak mendengar kabar kalau form biru tidak diberikan lagi, ya dengan berhasilnya saya mendapatkan form biru, berarti form biru masih diberikan, walaupun sepertinya pak polisinya agak enggan. SIM saya pun kembali jatuh ke tangan polisi, hehehehe

Pak Polisi langsung menuliskan di surat tilang denda sebesar Rp 30 ribu. Untuk memastikan saya bertanya, ‘berarti saya gak perlu ke pulomas (pn jakarta timur) lagi ya pak?’, sayang sekali jawaban yang saya dpatkan kurang simpatik, ‘lho sampeyan minta form biru berarti ngerti dong, ya langsung bayar ke bank’ dengan nada sewot.

Langsung ke kantor, di kantor nyari-nyari alamat bank BRI yang bisa buat bayar denda tilang, gak nemu-nemu (akhirnya tadi -30 April 2008- baru nemu di sini). Karena gak nemu coba sms ke 1717, itu lho sms center-nya Polda Metro Jaya, saya menanyakan bank BRI mana saja yang bisa untuk membayar denda tilang apakah semua cabang atau hanya tertentu saja, 1717 menjawab hanya bank BRI yang tertera di surat tilang saja yang bisa digunakan sebagai tempat pembayaran denda tilang. Saya coba periksa surat tilang saya, waduh lokasi bank-nya tidak ditulis alias kosong, kemudian saya tanyakan lagi ke 1717, mereka menyarankan saya untuk menanyakan ke petugas yang menilang atau ke kesatuan petugas tsb, ya.. gak begitu membantu sih. Hikmahnya adalah kalau nanti kena tilang dan dapat form biru jangan lupa menanyakan lokasi BRI tempat kita bisa membayar denda-nya.

Seminggu kemudian (28 April 2008) pas kebetulan lagi sakit, gak masuk kerja, pas mau ke apotek buat menebus obat, saya pikir sekalian deh ke satwilantas jaktim di daerah kebon nanas. Sampai di sana tanya ke bagian informasi, disuruh ke lantai tiga. Di sini lokasinya agak membingungkan, karena ada loket yang bertuliskan pengambilan barang bukti tilang tapi ditutup dan sepi, saya pikir masih istirahat makan siang, saya tunggu kok lama bener, akhirnya coba mengetuk salah satu pintu ruang yang tertutup di situ, kemudian bertanya kenapa loketnya belum buka-buka, diberitahu bahwa untuk mengambil barang bukti tilang di ruangan sebelah loket itu, yang pintunya tertutup, dan tidak ada papan pengumuman atau tulisan kalau di situlah tempat pengambilan barang bukti tilang, weleh-weleh… Masuk ke situ menyerahkan form biru, kemudian ditanya sudah bayar belum, saya jawab belum karena tidak diberitahukan di BRI mana bisa membayar, akhirnya bapak tersebut memberitahu kalau di wilayah jakarta timur ada dua BRI yang bisa, yaitu yang di Otista (seberang gelanggang remaja) dan satu lagi di Jatinegara Timur, saya pilih yg di Otista karena sering ngelewatin hehehe… Trus ditulis deh di form biru itu lokasi BRI-nya BRI Otista.

Segera meluncur ke BRI Otista, di sini cara membayar denda-nya juga bertahap, pertama kita masuk ke gedung BRI syariah di sebelah BRI-nya untuk mengisi formulir pembayaran denda tilang, di situ ada petugas khususnya, kemudian barulah kita membayar denda tilangnya di teller di gedung BRI.

Setelah itu balik lagi ke satwilantas jaktim di kebon nanas, ke ruangan yang tadi di lantai tiga. saya serahkan surat tilang form biru beserta bukti setoran BRI, cukup nunggu lama kemudian petugasnya saya lihat melihat buku-buku yg terlihat seperti log harian, dan berkata kepada saya bahwa petugasnya belum menyerahkan. Diminta kembali ke situ hari rabu (30 april 2008). Ini kok petugasnya bandel ya gak menyerahkan ke satwilantas? heran saya!.

Hari Rabu(30 April 2008), saya ijin keluar kantor untuk mengambil SIM (janji petugasnya pada hari senin hari ini akan ada). Sampai di satwilantas jaktim, udah mulai curiga kalau SIM saya lagi-lagi belum diserahkan, karena petugasnya (kali ini petugasnya polisi berseragam, bernama Pak Gede) kembali melihat-lihat buku-buku log tersebut. Saya langsung bertanya “Belom ada juga ya Pak? Saya sudah dua kali lho ke sini”, Pak Gede menyuruh saya ke bagian piket di bawah untuk menanyakan di mana Sertu Roy PK (petugas yg menilang saya, berhubung nama yg tertera di surat tilang gak jelas, jadi saya baru tahu juga itu namanya).

Di piket, petugasnya ada dua orang, yang satu agak ogah-ogahan melayani pertanyaan saya, dilihat dari sikapnya yg sambil ber-hp ria juga berkali-kali dia menyuruh saya untuk langsung ke Pak Gede lantai tiga. Saya jawab dengan cukup tegas “Saya sudah dua kali ke sini, tapi SIM saya belum diserahkan oleh Bapak Roy PK ini, tadi di lantai tiga Pak Gede menyuruh saya kemari untuk menanyakan di mana lokasi Bapak Roy PK ini”. Petugas yang satu lagi kemudian meminta surat tilang saya kemudian dengan menggunakan radio polisi dia menghubungi si Roy PK ini. Diketahui kalo dia sekarang sedang di depan UKI Cawang arah utara.

Langsung saja saya menuju ke UKI Cawang di jalur arah ke Tj.Priok (arah utara) di depan halte UKI Cawang situ saya melihat dua orang polisi (dua orang sama yg menilang saya, yg satu lagi saya tak tahu namanya). Saya menghampiri polisi yang satu lagi, berhubung si Roy PK lg di tengah-tengah jalan, bertanya kepada pak polisi itu apakah saya bisa bertemu dengan bapak Roy PK. Bapak itu pun memanggil koleganya si Roy PK ini. Di tepi jalan saya menagih SIM saya yang ditahan kepada bapak Roy PK sambil menyerahkan surat tilang beserta tanda bukti pembayaran dari BRI. Dia melihat-melihat kemudian menanyakan kepada saya “Cepet banget sih, sekarang baru tanggal berapa?”. Weleh-weleh bapak ini gimana sih ini kejadiannya udah seminggu lebih mosok dibilang terlalu cepat saya mengurusnya. Ini saya yang terlalu cepat atau Bapak yang terlalu malas buat menyerahkan SIM saya ke satwilantas.

Kemudian dia berkata bahwa SIM saya ada di mobil patroli, dan mobil patrolinya lagi di arah yg berseberangan dengan lokasi saya, baru akan memutar nanti jam 14.00. Saya segera melihat jam, waktu menunjukkan pukul 14.05, langsung saya bilang “ini udah jam 2 lewat, pak!”. Dia kemudian jawab “tunggu sebentar, beli minum aja dulu, tinggal muter doang mobilnya”. Saya tak bergerak dari posisi. Kemudian dia bertanya lagi, kali ini sambil cengengesan “Tunggu sebentar, gak kerja kan mas?”. Duerrr!!!, ampun dah parah banget ini polisi, padahal saya ijin keluar kantor cuma buat ngambil SIM yang ternyata belum dia serahkan-serahkan ke satwilantas. Saya jawab dengan agak emosi, “Gak pak, saya gak kerja, santai aja pak, sampai maghrib juga gak papa”. Mendengar itu kayaknya dia ngerasa juga, dia langsung menghubungi temannya di mobil patroli melalui radio polisi. Akhirnya saya menawarkan bagaimana kalau saya boncengkan dia ke mobil patroli tersebut dgn motor yg saya bawa. Saya sudah memakai helm dan menyalakan mesin motor saat dia tiba-tiba bilang tidak usah, dan kemudian dia mengatakan saya menyeberang saja. Yang ironisnya dia menyeberang langsung saja, padahal jembatan penyeberangan gak jauh dari situ, dan sudah tentu dia menerobos pagar pembatas jalan. Wekekekekek, saya cuma bisa ketawa prihatin saja. Dia kembali lagi membawa beberapa buku tilang, saya lihat banyak sekali bukan milik saya saja. Saya bertanya dalam hati, “ini orang gak pernah nyerahin tilangan-tilangan dia ke satwilantas apa ya?”. Akhirnya saya mendapatkan SIM saya kembali, dan saya langsung pergi meninggalkan Roy PK ini. Apa kalau mau mengambil SIM yang ditilang harus dengan metode jemput bola seperti ini ya? Menghampiri langsung petugas yang menilang kita?

Sebaiknya POLRI bisa lebih profesional lagi…….(semoga, itu harapan saya dan seluruh bangsa Indonesia)

6 Responses to Mengurus Tilang v2.0 (Form Biru)

  1. Susah ya kalo mau ikut prosedur yang bener. Mungkin kita harus mulai pikir untuk pindah ke ‘negara yang lain itu tuh’ Njar…

  2. ‘negara itu tuh’ yg mana ya pur?

  3. wah..wah…form merah ato biru neh kalo gituh…???yahhh..form merah aja deh…besok gw sidang neh…dateng pagi apa siang yah enak-nya…?pls dvise donk…dilihat dari efisiensi waktu aja…soalnya banyak kerjaan dikantor neh..thx bro…

  4. anjar widianto

    @oso
    Lebih baik pagi aja, sebelum jam istirahat makan siang, klo besok berarti jumat ya?? datang jam 8 ajah klo dateng agak siangan nanti kepotong break shalat jumat, baru buka lagi jam 1 lewat

  5. pembayaran ga bs lewat atmn aja apa ya??? kok ribet bgt de.. jd mls ngurusnnya kn… mending damai dunk…

  6. haha…sorry ketawa. emang agak memprihatinkan juga kondisi negara ini.
    gw juga puny kejadian sama, “lupa nanya cabang BRI bwt bayar tilangnya jg” (abis lg buru2, pake acara kena tilang hehe..)
    thanks bwt infonya n mudah2-an gw ga bakalan perlu 2x jemput bola ni 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *