Der Spielmacher

Mengurus Tilang v2.0 (Form Biru)

Apr
30

Setelah kena tilang yang waktu itu, tanggal 21 April 2008 kemarin saya terkena tilang lagi, ya saya akui saya memang salah, soalnya memutar di putaran yang ada rambu dilarang memutar, putarannya terletak di jln. I Gusti Ngurah Rai daerah buaran jakarta timur, di depan kantor PPP, hehehehe berhubung putaran yang bener jauh banget di depan PMI Jakarta Timur sana, dan emang lagi buru-buru.

Akhirnya disuruh menepi oleh bapak polisi yang jarang-jarang ada di situ (putaran ini memang sering banget dilanggar), diminta memperlihatkan SIM dan STNK, kemudian pak polisi mengeluarkan surat tilang, awalnya mau dikasih yang form merah, tapi saya buru-buru meminta form yang biru, ya sekali-kali nyobain yang biru, yang merah kan udah, lagipula di pengadilannya juga ga ada argumentasinya, langsung divonis bersalah dan bayar denda, mending langsung bayar dendanya aja. Ya udah dikasih form biru, ini awalnya saya ragu akan diberikan form biru, karena banyak mendengar kabar kalau form biru tidak diberikan lagi, ya dengan berhasilnya saya mendapatkan form biru, berarti form biru masih diberikan, walaupun sepertinya pak polisinya agak enggan. SIM saya pun kembali jatuh ke tangan polisi, hehehehe

(more…)

Mengurus Surat Tilang

Mar
04

Sebetulnya kejadian ini udah lama berlangsung, tapi mungkin ada baiknya diceritakan, siapa tahu bermanfaat bagi siapa saja.

Awal mula cerita terjadi saat mau ke nikahan seorang teman di Tanjung Priok tanggal 27 Januari 2008, janjian konvoi motor. Karena yang lain berangkat dari Depok, dan saya sendiri dari rumah, janji ketemu di Cawang Halim. Akhirnya perjalanan berlangsung melewati jalan di bawah jalan layang tol cawang-tanjung priok. Kebetulan karena ada seorang teman rumahnya di tanjung priok, beliau didaulat sebagai penunjuk jalan, dan yang lainnya mengikuti di belakangnya. Awalnya sih mulus-mulus aja, sampai ketika di dekat samsat kebon nanas, saat jalan bercabang menjadi jalur cepat dan lambat. Sesuai peraturan motor harusnya lewat jalur lambat, tetapi entah kenapa si teman sang penunjuk jalan lewat jalur cepat, awalnya agak ragu sih, tapi karena takut tercecer, soalnya memang terakhir dalam barisan, akhirnya ikut pula masuk jalur cepat.

(more…)